Kasus Tanjung Priok dalam pendekatan Sosio Budaya
Posted by herro in umum
Ketika berbicara tentang sosio budaya, maka fokus perhatian kita adalah pada proses interaksi manusia, bukan pada karakteristik perorangan. Kalau kita lihat kasus Tanjung Priok misalnya, terdapat dua pihak yang saling berinteraksi. Yakni pihak Satpol PP dan pihak ahli waris tanah makam mbah Priok. Satpol PP yang merupakan singkatan dari Satuan Polisi Pamong Praja, adalah perangkat Pemerintah Daerah dalam memelihara ketenteraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Satpol PP dapat berkedudukan di daerah provinsi dan daerah Kabupaten/Kota. Di daerah provinsi, Satpol PP dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Organisasi dan tata kerja Satpol PP ditetapkan dengan Peraturan Daerah, sehingga antar daerah bisa saja memiliki nama, organisasi dan tata kerja yang berbeda.
Jadi sesungguhnya pihak Satpol PP adalah perpanjangan tangan dari pemerintah. Dialah yang menjadi ujung tombak dalam proses eksekusi tanah makam. Satpol PP melaksanakan tugas berdasarkan instruksi Gubernur DKI Jakarta. Satpol PP hanyalah menjalankan peran pemerintah.
Pihak ahli waris yang didukung oleh masyarakat setempat, sudah menjalin komunikasi yang solid diantara mereka. Bahkan timbul budaya ziarah ke makam mbah Priok. Masyarakat setempat memberi makna yang sakral kepada makam mbah Priok, sehingga muncul nilai-nilai kolektif seperti mengeramatkan makam, memelihara, mempertahankan eksistensi sampai mempertaruhkan nyawa.
Di tengah investigasi kasus mbah Priok, ragam rumor berkeliaran. Misalnya soal dana Rp 11 milyar yang dikucurkan PT Pelindo II kepada Satpol PP untuk melakukan penggusuran makam. Rumor ini melengkapi issu sebelumnya perihal bermainnya mafia tanah dalam rencana penggusuran itu. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya KKN telah melahirkan tindakan dengan segala cara, termasuk kekerasan.
Secara keseluruhan kita bisa melihat pada fenomena Priok, bahwa dalam berkomunikasi, seseorang memengaruhi dan dipengaruhi makna, peran , aturan dan nilai-nilai kolektif. Itulah salah satu perpektif sosio budaya dalam kasus Tanjung Priok.
